dalam gundahnya malam
hatiku bersenandung akan dirimu
aku mulai mencintaimu
berharap kau merasa yang sama
walau ku tahu, mungkin saja tak mungkin
kail cinta yang kau umpankan
sanggupkah aku menangkapnya?
rembulan kini telah pergi dari singgasananya
ia iri melihat sinarnya tertutup oleh sinarmu
aku dalam keindahan sinarmu
kau hadir kala hati ini kehausan
bagai hujan yang selalu dinanti oleh gurun
kau adalah sebuah ketenangan
ditengah-tengah badai menderu
kau mimpi indahku dikala terlelap
membayangkanmu adalah cita
kesepianku sirna kala datang bias wajahmu
kau datang membawa sebuah cerita
bunga-bunga mekar menyambut hadirmu
burung bernyanyi mengiringi langkahmu
Tuhan telah mengirimkan makhluk terindahnya
kau makhluk Tuhan-ku, kau terindah
ditengah semua rasa ini
aku menjadi lebih dari sekedar takut
takut bahwa mungkin hatimu tak lagi kosong
aku takut sendirian …
Hujan menumbuh suburkan rindu, kemudian musim kering membawanya serta pergi . .
Hujan turun deras seperti hujan anak panah, perang antara bumi dan langit. Dibalik jendela kereta api, aku menyaksikan jutaan anak panah menembus setiap jengkal dari bumi.
Mungkin saja saat ini aku seperti bumi…
ia tak pernah pergi
ini tak pernah jauh
gugus kebimbangan yang merekah
kusangkutkan dalam pasungan cintamu
kail kasihmu tak kutangkap
bukan tak ingin
hanya tak mampu
ku biakkan tunas cinta-ku
ku lari, ku injak biar mengadu
deru nafas ku kumandangkan namamu
hanya agar kamu tahu
itu saja
dan memiliki kadarnya masing-masing
(via kurniawangunadi)
(via kurniawangunadi)
Gross Arnold
(via kurniawangunadi)
(Source: digitalbridges.eu, via kurniawangunadi)